SORONG – Guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menghitung, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sorong menerapkan numerasi metode Gampang Asyik dan Menyenangkan (Gasing) kepada 64 siswa SD dan SMP di Kabupaten Sorong tahun ajaran baru 2023/2024.
Penjabat Bupati Sorong Yan Piet Mosso menjelaskan, program penerapan motode gasing ini merupakan kerja sama antara Institud Yohanes Surya dengan Pemerintah Kabupaten Sorong guna memberikan pelatihan dan memperkenalkan metode berhitung tanpa alat bantu kepada siswa-siswi SD dan SMP.
“Jadi tahun ini untuk Kabupaten Sorong ada 64 siswa yang ikut dan 34 guru yang nantinya dilatih dan didik oleh pelatih yang telah disiapkan. Dari 38 guru ini akan menjadi instruktur untuk melanjut pelatihan di seluruh tingkat pendidikan di Kabupaten Sorong,” Ujar YP Mosso.
Dari 34 guru itu, kata Mosso, diharapkan bisa menghasilkan 100 orang instruktur sehingga seluruh siswa di tingkat SD, SMP dan SMA/SMK bisa pandai menghitung dengan baik dan benar. Karena menurutnya, realisasi program gasing ini merupakan baru di Kabupaten Sorong, sehingga hanya 64 siswa SD dan SMP yang dilibatkan di dalam pelatihan ini.
YP Mosso menilai, program gasing ini merupakan sebuah metode baru dan strategis bagaimana membuat seorang siswa berhitung cepat dan tepat, sehingga kerja sama yang dijalin pada 2023 akan dilanjutkan pada 2024 nanti.
” Maka sejak dini anak-anak kita sudah harus diterapkan strategi ini dalam kecerdasan otak untuk berhitung cepat, karena mereka akan menjadi generasa masa depan Indonesai hebat dan generasi emas di masa yang akan datang,” Ungkap Mosso.
Mosso yakin bahwa penerapan metode gasing ini akan menjadikan anak-anak Kabupaten Sorong sebagai bagian dari investasi pengetahuan anak di masa yang akan datang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong, Reinhard Simamora mengatakan, 64 siswa itu berasal dari SD dan SMP yang ada di pedalaman seperti Distrik Makbon, Seget, Sayosa dan Aimas.
Sementara 34 guru merupakan perwakilan dari masing-masing dsekolah yang tersebar di setiap distrik seperti Distrik Maudus, Wanurian, Sayosa, Sayosa Timur, Maudus, Klamono, Saigun, Aimas, Mayamuk dan Distrik Salawati.
“Jadi karena kebijakan Otonomi Khusus nomor 02 tahun 2021 maka peserta yang terlibat di dalam pelatihan ini adalah 90 persen orang asli Papua dan10 persen non Papua,” beber Simamora.
November 2023 ini, dipastikan pembelajaran metode gasing ini sudah harus tuntas di seluruh tingkat pendidikan di Kabupaten Sorong.
“untuk mendukung program ini maka anggaran yang diplotkan lebih dari Rp1 miliar,” ucap Reinhard.









